Part 2 - Satu Bangsa

24 September 2008

Clifland, Dustan, dan Tyler sudah duduk di belakang kelas dan mencoba untuk tidak menarik perhatian teman-teman lainnya. Tyler mencoba mengatakan bahwa ada masalah yang gawat yang sedang terjadi di sekolah ini maupun sekolah lainnya. Polisi baru saja menelepon ke sekolah kita bahwa ada bom yang telah dipasang di sebuah sekolah, tetapi tidak ada yang tahu di sekolah mana bom tersebut dipasang. Dan jika ada seorang murid sekolah yang keluar dari sekolah tersebut, maka sekolah itu akan meledak. Tetapi jika bom tersebut tidak bisa ditemukan, maka pada jam 4 sore nanti bom itu akan meledak.

Clifland dan Dustan tampak cemas dan panik, ya sangat jelas bahwa mereka panik dan itu tersirat dari keringat yang bercucuran di wajah mereka. Mereka berdua diam seribu bahasa, sementara Tyler masih terus berpikir bagaimana caranya untuk menemukan bom tersebut dan apa tujuannya mem-bom sekolahan. Sayangnya Bapak Bureig hanya diam saja, sehingga Tyler tidak bisa mengorek informasi lebih banyak lagi. Clifland yang tak tahan dengan kepanikannya keluar dari kelas dan langsung menuju WC cowo. Dustan dan Tyler pun menyusul khawatir kalau berita ini bocor ke mahasiswa lainnya.

“Lu gila apa? Bercanda lu tuh kelewatan!” bentak Clifland.

Tyler hanya berdiri membisu. Tidak ada satu patah kata pun yang keluar dari mulutnya. Dustan segera mengerti maksud Tyler dan menyuruh Clifland untuk diam. Dustan kemudian bertanya “Apakah polisi tidak diijinkan untuk memasuki sekolah kita?”

“Entahlah. Bapak Bureig dari tadi hanya diam saja. Bahkan catatan tadi di kelas saja atas inisiatif gw sendiri buat minjem ke Kayla.”

“Bagaimana kalau kita datengin Bapak Bureig lagi?” Tanya Clifland.

“Ya, kita coba saja lagi. Mungkin Bapak Bureig sudah bisa bicara” timpal Dustan.

“OK” seru Tyler sambil berjalan menuju ruang guru.

Sesampainya di ruang guru, Tyler masih melihat Bapak Bureig terdiam di mejanya yang tadi. Tyler langsung masuk dan mendekati lagi Bapak Bureig yang hanya diam saja.

“Pak, tadi saya sempat mencuri dengar bahwa di sekolah ini mungkin terpasang bom. Apa itu benar, Pak?”

Bapak Bureig terlihat makin gusar dan dengan gelagapan menjawab Tyler “Ti… tidak benar Tyler. Tidak ada bom di sekolah ini.”

“Tapi sikap bapak sendiri mencerminkan bahwa jawabannya iya” balas Dustan.

“Pak, mengapa tidak minta tolong polisi untuk memeriksa sekolah ini?” Tanya Clifland.

“Tim penjinak bom di kota ini hanya ada 3, sedangkan jumlah SMA di kota ini ada lebih dari 70. Bom pertama yang menyatakan bahwa telepon tersebut serius adalah dengan meledakkan pos di depan kantor polisi. Ini adalah teror yang benar-benar mengerikan.”

“Lalu apa rencana Bapak untuk menahan kami semua sampai jam 4 sore nanti Pak? Orang tua kami pasti akan langsung menelepon ke sekolah dan bertanya-tanya, sedangkan yang biasanya dijemput, para penjemputnya pasti masuk ke dalam sekolahan” kata Tyler.

“Dan bagaimana kalau bom meledak karena mereka masuk ke dalam sekolahan?” Tanya Clifland lebih lanjut.

“Pintu gerbang harus ditutup semua. Tetapi saya bingung harus berkata apa pada orang tua murid” jawab Bapak Bureig.

“Kalau begitu, kami minta ijin untuk mengadakan sebuah pertemuan Pengurus OSIS. Kami akan mempersiapkan permainan. Mudah-mudahan permainan tersebut dapat menarik seluruh perhatian murid. Sementara itu, para guru dimohon untuk ikut berpartisipasi juga. Semua jam di aula kami minta dilepas dan semua guru dilarang memakai arloji-nya.”

“Ya, menurut saya mengumpulkan seluruh murid dalam satu ruangan lebih baik agar membuat semuanya tetap tenang” timpal Dustan.

“Baiklah kalau itu mau kalian. Tapi lakukan dengan cepat” jawab Bapak Bureig.

Entah apa yang ada di dalam benak Tyler. Pikirannya telah bercabang kemana-mana. Dia terus mencari lokasi strategis di sekolahnya yang diperkirakan akan sangat menguntungkan bila meletakkan bom di sana.

Sementara itu, Dustan dan Clifland langsung memanggil semua Pengurus OSIS untuk berkumpul di ruangan Pengurus. Dan sesaat kemudian rapat Pengurus OSIS pun segera dimulai. Tyler yang memimpin jalannya rapat untuk mencari ide permainan yang akan menarik perhatian seluruh murid. Sementara beberapa Pengurus OSIS yang lain segera memberi pengumuman ke semua kelas kalau akan ada sebuah acara menarik yang akan membuat murid-murid pulang terlambat.

Tak lama kemudian, seluruh murid disuruh berkumpul dalam sebuah aula yang besar dan di aula tersebut semua jam telah dilepas. Acara permainan pun segera dimulai. Para guru pun tak luput dari hasutan dan bujukan untuk ikut bermain. Sementara acara permainan dimulai Tyler, Dustin, dan Clifland keluar dari aula dan mulai berputar mengelilingi sekolah. Pikiran mereka bertiga mengarah ke pondasi terkuat yang ada di sekolah tersebut. Mereka berpikir kalau bom pasti diletakkan di sekitar pondasi itu.

Sesampainya di sana, Dustin dan Clifland langsung mencari-cari celah atau apapun yang bisa digeser. Tyler mencari sekop untuk mencari bom itu di sekitar tanah. Setelah 15 menit pencarian tanpa hasil, tampaknya mereka harus mencarinya di tempat lain dan memastikan bahwa tidak ada bom di sekolah mereka. Tyler berpikir, mungkin bom itu tidak di lantai dasar, mungkin saja di lantai dua atau tiga yang nantinya akan membuat roboh bangunan. Tanpa pikir panjang, mereka pun mencoba mencarinya di lantai dua.

Sesampainya di lantai dua, mereka segera ke lorong yang mengarah ke pondasi tersebut. Tiba-tiba HP Tyler bergetar dan mengeluarkan bunyi aneh. Tyler kaget karena dia sama sekali tidak menyalakan HPnya dan dengan keheranan dia mengambil HP dari dalam kantongnya. HP tersebut terus bergetar dan menyala berkedip-kedip sambil mengeluarkan bunyi beep berkali-kali. Tiba-tiba Kayla keluar dari dalam kelas di lorong tersebut dan langsung berkata “Akhirnya kau datang juga ke sini. Yang kau cari ada di dekat sini. Karena itu HPmu bergetar.”

Clifland, Dustan, dan Tyler kebingungan melihat Kayla ada di sana. Apalagi perkataannya membuat mereka bertiga curiga pada Kayla. “Apa maksudmu? Dan kenapa kau ada di sini?” Tanya Clifland.

“Itu tidak penting” jawab Kayla seraya mendekat. Kayla langsung menggeser sebuah batu pada tembok yang dibuat seperti tempat duduk. Kemudian dia menjulurkan tangannya ke dalam dan mengambil sesuatu dari dalam sana. “Ini kan yang kamu cari?” Tanya Kayla seraya menunjukkan sebuah alat pengukur waktu dan 3 batang silinder terbungkus kertas warna coklat yang terikat rapi.

“Hei! Gimana caranya elu bisa tau klo di sekolah ini ada bom?” tanya Clifland.

Tyler langsung mengambil bom itu dan mendekati Kayla dan menatap tajam ke arah matanya. “Apa maksud semua ini?” Tanya Tyler.

“Tenanglah. Aku sudah tau sejak tadi pagi saat aku sampai di sekolah ini” jawab Kayla sambil menjauhi Tyler.

“Kau sangat mencurigakan, Kayla” kata Dustan.

“Itu tidak penting. Jinakkan bom itu sekarang atau kita semua akan mati” jawab Kayla.

“Clifland, beritahu Bapak Bureig untuk menelepon polisi dan katakan bahwa kita telah menemukan bomnya” titah Tyler.

“Tidak! Kita tidak tahu di sekolah mana lagi bom dipasang. Mungkin ada lebih dari satu sekolah yang dipasang bom. Biarkan polisi terus mencari di semua sekolah untuk amannya” seru Kayla.

“Lalu bagaimana cara kita mematikan bom ini?” Tanya Dustan.

“HP kamu, Tyler! HP kamu itu bukan HP biasa. Letakkan bom itu dan tempelkan HP kamu. Lakukan sekarang dan turuti saja kata-kataku” titah Kayla.

“Lu gila ya? HP kan bisa ngebuat gelombang elektro magnetik. Nanti bisa-bisa bomnya meledak!” Bentak Clifland.

“Sudah aku katakan sejak tadi. HP Tyler itu bukan HP biasa. Buktinya dalam keadaan mati dia bergetar dan menyala sendiri bukan?!” Jawab Kayla.

Tyler pun langsung mencoba apa yang dikatakan oleh Kayla. Dustan dan Clifland berdiri di sampingnya sambil berharap dan cemas. Kayla yang melihat kaki Dustan dan Clifland bergetar langsung memegang pundak mereka berdua sambil berkata “Tenangkan diri kalian. Kaki kalian bergetar kencang. Nanti bisa-bisa kalian ngompol di celana. Ga malu sama cewe?”

Tetap saja kaki Dustan dan Clifland terus bergetar kencang. Tyler yang telah meletakkan bom itu di lantai kini jongkok untuk menempelkan HPnya. Tetapi sebelum menempelkan HPnya, Tyler bertanya sekali lagi pada Kayla “Lu yakin? Gw percaya sama lu sampe detik ini. Gw harap lu ngga mengecewakan gw.” Kayla hanya membalas dengan senyuman dan anggukan.

Sesaat kemudian Tyler telah menempelkan HPnya pada bom itu, tiba-tiba keluar kabel dari dalam HP itu dan bergerak sendiri ke arah bom itu. Tyler tampak sangat kaget dan ketakutan. Tangannya bergetar. Kayla langsung jongkok dan memegang tangan Tyler dan berusaha mengurangi getarannya sambil berseru “Tenang! Tahan tanganmu! Stabilkan!” Kayla berusaha untuk selalu mengeluarkan kata-kata yang positif agar benak Tyler menjadi kuat dan tenang. Clifland dan Dustan pun ikut jongkok dan memegangi tangan Tyler juga.

Detik-detik terasa begitu lama. Rasanya seperti setengah jam padahal hanya dua menit berlalu dan kabel-kabel dari dalam HP Tyler sudah masuk kembali dan HP Tyler sudah mati lagi seperti sebelumnya. Tyler, Clifland, dan Dustan masih terbujur kaku. Kayla langsung melepaskan tangannya dan mengambil bom itu lalu segera berdiri dan berkata “Kalian ngapain sih jongkok melulu? Ga pegel apa? Bangun sini! Bomnya dah mati nih” sambil menunjukkan bomnya.

Akhirnya mereka bertiga berdiri. Tyler melihat HPnya yang sudah mati kemudian kembali memasukkannya ke dalam kantongnya. Kayla mendekat ke arah Tyler dan menjulurkan tangan kanannya untuk berjabat tangan. Tyler pun membalas Kayla dan menjabat tangannya. Kayla berkata “Happy birthday, Tyler! Yang ke-17 kan? Jangan lupa traktiran yah ^^”

Dustan langsung menyahut “Hei! Sejak kapan kau tau tentang tanggal lahir Tyler?”

“Sejak aku masuk SMA ini aku sudah tau semuanya tentang Tyler. Itu sangat mudah karena kita satu bangsa.”

0 comments: